Selasa, 24 Juni 2014

Menelisik Indahnya Bawah Laut Pulau Menjangan

(Foto oleh : Nuryani Widagti)



Pulau Menjangan merupakan salah satu pulau yang terdapat di pulau Bali, yang merupakan kawasan konservasi dari Taman Nasional Bali Barat. Pulau ini termasuk salah satu wall diving terbaik di Bali yang memiliki taman bawah laut dengan tingkat kecerahan (Visibility) yang baik dan dipenuhi dengan warna warni tumbuhan laut serta kaya akan biota laut.


Pulau ini dikelilingi terumbu karang dan formasi batuan yang kompleks. Formasi dari batuan tersebut membentuk sejumlah gua-gua besar dan kecil yang menjadi habitat bagi terumbu karang, karang lunak, Kerapu (dari Famili Serranidae, red.),dan Belut Moray (dari Famili Muraenidae, red). Di gua-gua kecil, Kakap dan Batfish (dari Famili Ogcocephalidae, red.) banyak terlihat hilir mudik. Dasar lautnya juga kaya akan Barrel Sponge (Xestospongia testudinaria, red.) dan Sea Fan (dari Ordo Gorgonacea, red.) yang berukuran sangat besar. Kedalaman laut dan aliran arus yang tenang menjadikan taman bawah laut sekitar Menjangan adalah tempat hidup bagi ikan Tuna, gerombolan Jackfish (dari Famili Carangidae, red.), Angelfish (dari Famili Pomacanthidae, red.), beragam jenis penyu, hingga hiu karang.


Salah satu spot diving yang sangat mempesona dan membuat mata tidak berhenti berkedip berada di spot diving pos II dan Coral Garden. Spot diving pada Pos II kondisi terumbu karangnya masih dalam kondisi sangat bagus, banyak ditumbuhi dengan tipe hard dan soft coral ditambah dengan banyaknya gerombolan ikan yang menyelimuti hamparan terumbu karang. Topografi pantai dari Pos II saat entry diving kita diperlihatkan dengan kondisi dinding karang yang curam akan tetapi disitulah titik keindahan dinding pantai yang diselimuti oleh banyaknya jenis terumbu karang. Selain itu tidak kalah indahnya yaitu spot diving Coral Garden ditempat inilah kita diperlihatkan dengan haparan yang terbentang luas dengan jenis karang yang beranekaragam, bagi penghobby diving dan fotografer ditempat inilah kita sangat dimanjakan dengan keindahan bawah lautnya. Tim diving yang diikuti oleh Fikrul Islami, Tedi Firmansyah, Jejen Jenhar Hidayat, dan Pak Putu selaku tour guide. Inilah aktifitas kami di surganya para penyelam Menjangan Island.

(Foto oleh : Pak Putu, Tedi Firmansyah, dan Fikrul Islami)


Transportasi menuju Pulau Menjangan jika ditempuh dari kota Jembrana dapat memakan waktu kurang lebih 1.5 Jam perjalanan, untuk melakukan penyeberangan ke Pulau Menjangan dapat menggunakan perahu yang dikelola oleh Taman Nasional Bali Barat yang merupakan perahu rakyat yang berlokasi di Pelabuhan Lalang yang merupakan alur arternatif utama menuju Pulau Menjangan dengan harga sewa Rp. 475.000,- disini tersedia potter untuk mengangkut barang ke perahu dengan biaya Rp. 40.000,- selain itu ada biaya tambahan jika ingin melakukan snorkling wajib didampingi dari pengelola Pelabuhan Lalang dengan biaya Rp. 150.000,-. 



Disamping keindahan bawah launya yang menawan, potensi daratanpun menawarkan pesona dari Pulau Menjangan yang tidak kalah indahnya. Terlebih lagi daratan Pulau Menjangan dilengkapi dengan Savanna dimana kita dapat melihat secara langsung Rusa Menjangan sedang berprilaku liar.
 
(Foto oleh : Nuryani Widagti)


Ini adalah pengalaman pertama saya bisa diving di sekitar Pulau Menjangan bersama teman - teman saya yaitu Mba Inuy, Mandang, Fikrul, dan Jejen perkenalkan inilah kami....
 
(Mandang, Mba Inuy, Fikrul, Tedi, dan Jejen)


 JAYA SELALU LAUTKU



SALAM BAHARI



Penulis : Tedi Firmansyah



Sumber : http://nyegaragunung.net/keindahan-daratan-dan-bawah-laut-pulau-menjangan-taman  nasional-bali-barat/




Senin, 19 Mei 2014

Mata Rantai Kehidupan Nelayan

(Foto : google.com)

 Mata rantai kehidupan nelayan terdiri dari dua bagian yaitu Nelayan Tradisional dam Modern. Kehidupan nalayan tradisional biasanya berfokus pada hubungan emosional seperti dalam hubungan kekeluargaan, perkumpulan nelayan yang solid (erat), dimana nelayan tradisional ini lebih bergantung pada kondisi alam dan para tengkulak sebagai penampung hasil tangkapannya. Sedangkan kehidupan nelayan modern lebih mengandalkan pemanfaatan teknologi serta modal yang cukup besar dengan skala ekonomi yang cakupannya besar pula, namun nelayan modern ini cukup rentan terhadap modal besar dan praktek penangkapan yang dapat merusak lingkungan atau keseimbangan ekosistem, sehingga keduanya memiliki tantangan ekonomi dan sosial yang berbeda akan tetapi memiliki keterkaitan dalam ekosistem perikanan. 
  1. Mata Rantai Kehidupan Nelayan Tradisional 
Kehidupan nelayan tradisional memiliki hubungan sosial dan ekonomi dalam suatu komunitas kelompok nelayan dan keluarga besar nelayan. Nelayan tradisional biasanya bekerja sama dalam satu tim keluarga untuk menangkap ikan dilaut, akan tetapi, para nelayan tradisional juga cukup rentan terhadap eksploitasi oleh pemilik modal (tengkulak) dimana tengkulak ini merupakan pengendali harga jual ikan dipasar serta tempat yang dapat memberikan pinjaman dengan sistem ijon. Alat tangkap nelayan tradisional biasanya menggunakan perahu kecil, sampan, pancing, tombak, bubu, dan jaring dengan area tangkap yang tidak terlalu jauh hanya terbatas sekitar pantai. Nelayan tradisional masih menggantungkan dengan kondisi alam, sehingga hasil tangkapan menjadi tidak tentu, bahkan mereka seringkali harus meminjam uang kepada tengkulak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dikala cuaca tidak mendukung untuk melaut atau dalam kondisi paceklik. Kekurangan dari nelayan tradisioanl yaitu kurangnya infratruktur seperti tidak dapat menjaga rantai dingin (cold chain) membuat akses penjualan mereka terbatas, sehingga tidak dapat memperluas penjualan hasil tangkapannya.

    2. Mata Rantai Kehidupan Nelayan Modern 

Nelayan modern kapal yang digunakan menggunakan kapal besar bermesin, peralatan canggih seperti GPS dan sonar untuk mengetahui skulling ikan, serta berbagai jenis alat tangkap yang cukup efektif seperti purse seine dan long line. Untuk jangkawan berlayar cukup jauh hingga ke samudera hindia atau ke samudera pasifik, dan lama waktu berlayar bisa sampai berbulan - bulan lamanya dengan hasil tangkapan yang lebih banyak dan bernilai ekonomis tinggi. Akan tetapi untuk nelayan modern cukup membutuhkan biaya atau modal besar untuk peralatan dan biaya operasional, yang memungkinkan mereka beroperasi dalam skala industri. Nelayan modern dapat memicu terhadap dampak lingkungan yang mana dapat berpotensi merusak ekosistem laut, seperti menangkap ikan kecil, yang seharusnya berkembang biak dan mengurangi populasi ikan. Nelayan Tradisional dan Medern memiliki ikatan saling bergantung walaupun berbeda dalam sisi teknologi dan skala, kedua nelayan ini seringkali terhubung dalam satu sistem mata pencaharian yang cukup luas, dimana nelayan tradisional dapat menjadi buruh bagi nelayan modern, dan keduanya sama-sama dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan kondisi pasar perikanan, tantangan kedua nelayan ini dimasa depan adalah proses modernisasi perikanan tidak cukup membantu, bahkan nelayan tradisional semakin hari semakin terpinggirkan karena modal dan teknologi yang tidak dimiliki oleh nelayah tradisional. 

Referensi 

https://www.kompas.com/skola/read/2021/10/06/140000569/persamaan-dan-perbedaan-nelayan-modern-dan-tradisional 

https://www.idntimes.com/life/education/persamaan-dan-perbedaan-nelayan-modern-dan-tradisional-00-dfnzv-r8x1qz

Jadwal Latihan



BPS CLUB PBSI Jembrana Bali

NO    NAMA CLUB       TANGGAL      HARI       JAM                KET

1        BPS Club            -                     Senin       17:00 Wita      Latihan Rutin
2        BPS Club            -                     Jum'at      06:30 Wita      Latihan Rutin






Sumber Gambar (http://www.harpendenbadmintonclub.com/images/leaping_smash.gif)

























































































































Pendakian Gunung Agung

Gunung Agung merupakan gunung tertinggi pertama di Bali dengan ketinggian mencapai 3.142 mdpl (meter dari permukaan laut). Gunung ini bers...